Fakta UMKM di Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, UMKM di Indonesia juga mengalami kemajuan yang pesat pula. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemanfaatan teknologi informasi saat ini sangat menguntungkan bagi pelaku UMKM, mengingat masyarakat cenderung mengakses informasi lewat internet.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop-UKM), Jumlah unit UMKM di Indonesia mencapai 64 juta. Angka tersebut mencapai 99,9 persen dari keseluruhan usaha yang beroperasi di Indonesia, meskipun 95% di antaranya hanyalah usaha mikro. Dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di masa ini, pelaku UMKM diperkirakan meningkat dalam rentang 15%-26% selama beberapa bulan terakhir.

Meskipun UMKM di Indonesia kini kian berkembang pesat, tetap tidak dapat dipungkiri karena adanya pandemi Covid-19, kegiatan UMKM menjadi terhambat dan banyak di antaranya terpaksa harus gulung tikar. Pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia telah melumpuhkan aktivitas ekonomi global, termasuk merobohkan perekonomian Indonesia yang semula sedang berlari kencang. Karena adanya pandemi Covid-19, kegiatan UMKM terutama di skala mikro menjadi cukup rapuh karena pendapatan usaha menjadi tak menentu karena jumlah permintaan yang cenderung berkurang. Sektor UMKM mikro ini juga mengandalkan belanja masyarakat. Tak heran, dalam kurun waktu 4 bulan terakhir sejak dilaksanakannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada April 2020 lalu, membuat kinerja UMKM merosot tajam.

“Selama pandemi ini jujur saja banyak yang terhenti usahanya, sekitar 30 persen yang usahanya terganggu. Sedangkan yang memang terganggu tapi menciptakan inovasi-inovasi kreatif sekitar 50-70 persen, meskipun mereka terkena dampak,” kata Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Indrawan kepada Liputan6.com, Jumat (4/9/2020).

Menanggapi hal tersebut, ia juga menyebut beberapa pelaku UMKM sudah mulai bangkit lantaran mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam skema Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) seperti relaksasi KUR, subsidi bunga, modal kerja, serta Bantuan Presiden (Banpres) Produktif untuk usaha mikro dalam bentuk hibah.

“Banyak program yang saat ini masih berjalan seperti Banpres produktif untuk usaha mikro, kemudian program-program yang lain baru dimulai, jadi kita belum ada data berapa jumlah UMKM yang bangkit, tapi diharapkan pada September kita sudah memiliki data, juga diharapkan September ekonomi kita bangkit,” ujarnya.

Dalam menanggapi merosotnya kinerja UMKM mikro, pemerintah Indonesia juga telah menghasilkan beberapa kebijakan berupa insentif untuk membantu UMKM melewati persoalan ekonomi yang mendera bangsa ini. Terdapat 3 kategori insentif yang diberikan secara khusus untuk UMKM di Indonesia.

  • Pertama, insentif terbaru berupa bantuan hibah langsung dalam bentuk tunai sebesar Rp2,4 juta untuk usaha ultra mikro. Pemerintah juga melakukan pendataan ulang terhadap usaha-usaha ultra mikro yang mendaftar dan ingin mendapatkan fasilitas tersebut.
  • Kedua, terdapat pula pemberian dana kepada usaha mikro yang bersifat produktif agar mampu melakukan belanja. Dengan insentif ini, pelaku ekonomi yang selama ini terhubung dalam rantai produksi usaha mikro bisa ikut terkerek naik. Pada akhirnya belanja meningkat, dan mampu mendorong pertumbuhan PDB. Insentif ini diberikan kepada usaha yang belum bankable atau tidak mampu bertahan saat ekonomi melorot. Selain itu, insentif juga diberikan kepada UMKM yang mampu bertahan tapi membutuhkan restrukturisasi utang.
  • Ketiga, penyaluran kredit modal kerja bagi UMKM untuk bisa bangkit kembali dan berkembang di tengah kondisi yang sulit.

Tiga hal ini digelontorkan pemerintah untuk membantu usaha kecil agar dapat bangkit kembali di masa pandemi ini. Kebijakan pemerintah tersebut merupakan langkah yang tepat karena peran UMKM terhadap ekonomi Indonesia sangatlah besar. Maka dari itu, pengusaha kecil merupakan pihak paling depan yang dibantu oleh pemerintah.

Tidak hanya itu saja, dengan mudahnya akses informasi dan komunikasi melalui internet, di masa pandemi ini masyarakat lebih sering melakukan transaksi secara online atau tanpa tatap muka.  Kementerian Koperasi dan UKM mencatat setidaknya sejak pandemi terjadi, penjualan di e-commerce naik hingga 26 persen atau mencapai 3,1 juta transaksi per hari. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Koperasi dan UKM terus berupaya mendorong dan mempercepat UMKM agar go digital. Demi terciptanya UMKM yang go digital, Kementerian Koperasi dan UKM bekerjasama dengan berbagai marketplace besar seperti Shopee, Blibli, Tokopedia, Grab dan lain- lain, melaksanakan program pelatihan dan pendampingan untuk UMKM yang belum hadir di platform digital. Dengan program ini, diharapkan pada akhir tahun 2020 akan ada 10 juta UMKM yang masuk ke dalam ekosistem digital.

Sumber:

Lavinda. “Opini: UMKM, Tantangan Pasar Dan Solusi Digital.” Jurnal Entrepreneur, 19 Aug. 2020, www.jurnal.id/id/blog/opini-umkm-tantangan-pasar-dan-solusi-digital/. Accessed 18 Oct. 2020.

Liputan6.com. “Berapa Jumlah UMKM Di Indonesia? Ini Hitungannya.” Liputan6.Com, 4 Sept. 2020, www.liputan6.com/bisnis/read/4346352/berapa-jumlah-umkm-di-indonesia-ini-hitungannya. Accessed 18 Oct. 2020.

Okezone. “Go Online, Berikut Fakta-Fakta UMKM Di Indonesia : Okezone Economy.” Https://Economy.Okezone.Com/, 6 Jan. 2018, economy.okezone.com/read/2018/01/05/320/1840858/go-online-berikut-fakta-fakta-umkm-di-indonesia. Accessed 18 Oct. 2020.